9 Ternak Mati Dengan Perut Berisi Besi, Warga Pagerwojo Tulungagung Resah Merebaknya Isu Santet

Warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung dihebohkan dengan kematian ternak mereka yang dianggap tidak wajar. Sembilan ternak milik warga mati dengan keanehan. Kesembilan ternak tersebut terdiri dari delapan ekor sapi dan satu ekor kambing.

Di dalam perut ternak tersebut ditemukan sejumlah benda benda aneh. Hal ini tentu membuat warga setempat curiga. Saat dibedah, dalam perut ternak tersebut ditemukan potongan besi, potongan akar keras, pasir dan kerikil.

Diduga, benda benda ini yang menjadi penyebab kematian ternak tersebut. Benda asing yang ada itupun memunculkan isu santet atau dalam bahasa lokal disebut jengges langsung merebak. "Ternak yang mati ada delapan sapi milik 3 warga, dan satu kambing milik satu warga lainnya," tutur Kepala Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Mulyono.

Mulyono menuturkan, sapi yang mati jenis sapi perah yang masih produktif. Gejala awalnya sapi tidak doyan makan, lalu mati mendadak. Warga awalnya khawatir sapi yang mati disebabkan virus.

"Akhirnya warga berinisiatif membedah sapi yang mati. Di dalam perutnya ditemukan aneka benda tak wajar itu," ungkap Mulyono. Kematian sapi itu membuat warga resah. Isu aktivitas santet di antara warga pun merebak.

Sebab tidak mungkin sapi dan kambing makan potongan besi. "Kalau dilogika kan gak bisa, bagaimana besi bisa masuk ke dalam perut sapi dan kambing?" terang Mulyono. Untuk meredam keresahan warga, pemerintah desa akan mengumpulkan warga.

Mulyono khawatir, ada aksi tuding di antara warga dan bisa memicu aksi main hakim sendiri. Sementara warga juga mencari "pageran" supaya sapinya tidak ikut jadi korban. "Semua cari cara sendiri sendiri supaya sapinya tidak ikut jadi sasaran santet. Istilahnya cari pageran," terang Mulyono.

Kematian sapi yang disengaja biasanya dilakukan oleh pedagang nakal. Sapi incarannya sengaja diracun agar mati dan bisa dibeli dengan harga murah. Namun kematian beruntun sejak Mei ini, hewan ternak tidak ada pedagang yang berminat membeli sapi yang mati.

Hal itu menguatkan kecurigaan warga, kejadian itu memang karena aksi santet. Apalagi kejadian serupa sempat merebak di tahun 2013 silam. Kala itu nyaris terjadi aksi massa yang menghakimi pelaku.

"Saat itu pelaku saya sembunyikan, dia mau tobat. Semua ilmunya sudah dirontokkan," kenang Mulyono. Mulyono memastikan, pelaku tahun 2013 tidak beraksi lagi karena sudah tidak punya ilmu santet. Ia menduga ada pelaku dari luar desanya.

Menurut pelaku yang sudah bertobat, ilmu santet harus diamalkan secara berkala agar tidak menyerang dirinya sendiri. "Jadi kalau ilmu itu tidak dipakai menyerang hewan atau orang lain, maka akan memakan dirinya sendiri." "Saya khawatir kematian ternak warga ini karena ada yang mengamalkan santetnya," pungkas Mulyono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Previous post Zinedine Zidane Tinggalkan Real Madrid, Penyebabnya Ini
Next post Misima Gagal Lihat Jokowi secara Langsung padahal sudah Naik Ojek 120 Kilometer